Blognya Triunt

Kerabat KOTAK Solo

Renungan dari sebuah Renungan Malam

Kamu pernah ikut pramuka, PMR, Mapala, PBB, OSIS, dan pernah mengikuti salah satu sesi acaranya yang bernama renungan malam, sebuah sesi dimana kita dibawa merenung dalam sekali, situasi yang hening, gelap, dan terkadang membuat peserta menangis sesenggukan, sebuah renungan yang pada umumnya menceritakan tentang di situasi malam ini, kamu bisa tertawa lebar, bersenang-senang, kamu boleh tidak menggubris acara renungan ini, tapi tiba-tiba kamu menerima telepon dari keluarga, kamu disuruh pulang sekarang juga oleh orang rumah, kamu masih santai saja karena berfikir ada sedikit masalah di rumah, tapi besok pagi, saat kamu masuk kampung, terlihat ada bendera merah di mulut gang, dan kamu berfikir ada tetangga yang meninggal, tapi bendera-bendera itu selalu aja terpasang di mulut gang yang kamu lewati, dan berakhir di depan pagar rumahmu, kamu menangis, kamu tertunduk, saat memasuki rumah sudah kau lihat kerenda putih, salah seorang keluargamu mengatakan “Ibu telah tiada”.

Banyak senior yang menganggap sesi ini adalah sesi perpeloncoan (termasuk saya dulu), jujur saya senang jika banyak peserta yang menangis sesenggukan, bahkan beberapa ada yang akhirnya kesurupan gara-gara terlalu tertekan dengan pikirannya sendiri (kosong mungkin). Tapi dibawah ini saya akan sedikit berkisah.

Beberapa minggu yang lalu teman saya pergi ke Jakarta untuk mengunjungi keluarga, namanya Eka (Bukan nama sebenarnya-red), iya ini adalah minggu-minggu santai setelah kemarin sibuk ngumpulin tugas2 kuliah dan UAS, ini adalah waktu yang tepat buat refreshing, dengan kereta bisnis dia cabut ke Jakarta, saya juga sempet refreshing ke Semarang kala itu, diselingi juga dengan acara kopdar dan lauching bengawan, beberapa hari di Jakarta tiba-tiba dia ditelpon keponakannya, dia disuruh cepat pulang, dan dengan perasaan bertanya-tanya dia pun pulang sore itu juga, tadi sekilas ada temannya yang keceplosan bilang bahwa ibunya kecelakaan, fikirannya jauh ke rumah, tapi dia masih berusaha menenangkan diri bahwa orang tuanya hanya sakit biasa (karena kecelakaan itu tentunya), dengan kereta malam dia pulang sendirian, malam ini mungkin menjadi malam tak akan pernah terlupakan baginya, dia lihat lampu-lampu kota masih berkedip-kedip disela suara dengung kereta yang rodanya selalu berputar mengikuti arah rel, jam 10 malam dia sampai di kotanya Trucuk, Klaten, dijemput keluarga dan sampai di rumah dia terperanjat rumahnya sudah penuh oleh tetangga-tetangganya, “Ka, Ibumu meninggal”.

Dan ternyata sepeninggal sang ibu sampai saat cerita ini saya tulis masih ada cerita yang tidak kalah trenyuh, Ayahnya sekarang masih terbaring di salah satu RS terkenal di Solo, kemarin Eka curhat bahwa Ayahnya belum tahu bahwa istrinya telah meninggal dalam kecelakaan naas di sekitar Granada Klaten itu, dan sampai sekarang dia selalu ingin dijenguk istrinya, dan minta pulang, suatu saat nanti dia akan tahu bahwa perjalanannya dari Pasar Legi Solo itu adalah perjalanan terakhirnya dengan sang istri, hingga dia telah membuat pelajaran baru untuknya, untuk keluarganya, untuk tetangga2nya, untuk saya, dan untuk semua yang telah membaca tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: